Setiap orang memiliki naluri berbuat baik… Sebab Allah telah mengilhamkan pada setiap jiwa, kebaikan (ketakwaan) dan keburukan (fujur) sekaligus –fa alhamahaa fujuuraha wa taqwaaha)… Namun tegas-Nya, hanya orang yang mensucikan jiwanya sajalah yang akan beruntung -qad aflaha man zakkaahaa… Sedang orang yang mengotori jiwanya, ia akan gagal dan merugi –wa qad khaaba man dassaahaa…
Karenanya kebaikan itu fitrah seorang manusia… Setiap orang mencenderungi kebaikan… Sekalipun misalnya ia tidak bisa berbuat baik, atau tidak sedang melakukanya, tetapi ia tetap mencintai kebaikan, baik kebaikan itu ditujukan kepada orang lain, maupun apalagi jika kebaikan itu ditujukan kepada dirinya… Hanya orang tertentu yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, yang tidak mencenderungi kebaikan…
Namun kebaikan tidak bisa berjalan sendiri… Ia harus digerakkan… harus didorong, harus digulirkan dan diluncurkan, bahkan sebagian mungkin harus dilemparkan… Naluri berbuat baik, juga kehendak berbuat baik, belum tentu akan mewujud menjadi tindakan kebaikan, jika tidak ada gerakan untuk mengeluarkan naluri kebaikan itu dari diri seseorang, untuk menjadi kebaikan… Sebuah naluri kebaikan akan tetap berada di tempatnya, di jiwa yang telah diilhami Tuhan, dan tidak akan keluar dari sarangnya agar bisa dirasakan oleh orang lain, jika tidak ada upaya untuk mengeluarkannya, baik secara sukarela maupun bahkan mungkin terpaksa…
Tidak sedikit orang yang ingin berbuat baik, mengeluarkan kebaikan dari dirinya agar bisa dirasakan manfaatnya oleh orang-orang lain… tetapi ternyata ia tidak bisa melakukannya… Dan ketidakmampuan itu, sebagian karena ia memang tidak mampu mengeluarkan kebaikan itu dari dirinya, dan sebagian lagi mungkin pula karena lingkungan tidak kondusif atau tidak bersedia menerima kebaikannya, atau bahkan tidak memerlukannya…
Maka… sekalipun setiap orang bernaluri untuk berbuat baik, tetapi kebaikan memang memerlukan pelatuk untuk menggerakkannya… Sekalipun setiap jiwa berkeinginan untuk berbuat baik, tetapi kebaikan memang memerlukan saluran untuk mengalir dan bergerak menuju tujuannya… Sekalipun setiap manusia memiliki fitrah kebaikan, tetapi setiap kebaikan memerlukan tempat lain untuk bisa dinikmati orang-orang lain, atau makhluk lain…
Kebaikan memang tidak bisa berjalan sendiri… ia membutuhkan pelatuk untuk menggerakkan, dan saluran untuk mengalirkan…
Salam ekselen…!
Bandung, 8 Ramadhan 1432 / 8 Agustus 2011
Ashoff Murtadha












