Banyak orang telah berdoa. Dan banyak pula orang yang telah kecewa dalam doa mereka. “Shalat malam dan shalat hajat sudah kulakukan. Puasa sunnat sudah kukerjakan. Doa dan wirid terus kupanjatkan. Tetapi, mengapa Allah tidak juga mengabulkan doaku…? Jika Dia tidak mendengar dan mengabulkan doaku, lalu untuk apa lagi aku berdoa,” kata mereka dengan nada menggugat.
Tidak sedikit orang yang kecewa karena doanya tidak terpenuhi. Lalu mereka menyalahkan Allah Swt. Sebagian malah ada yang meninggalkan-Nya (na`udzu billah). Sayang, kebanyakan orang lupa untuk meninjau kembali konsep doa. Ada yang mengira doa sebagai mantera (jampi), yang bisa mengubah keadaan seketika. Ada juga yang mengira Tuhan sebagai pesuruh harus memenuhi apa saja yang mereka minta. Mereka lupa melihat siapa diri mereka di sisi-Nya.
“Bila engkau ingin tahu di mana posisimu di sisi Allah, maka perhatikanlah di mana posisi Allah di hatimu,” nasihat dari Imam Ja`far al-Shadiq. Alangkah rendahnya posisi orang yang memandang Tuhan sebagai pesuruh yang harus memenuhi semua keinginannya. Dia berdalih, mengapa Allah tidak memenuhi doanya padahal doa adalah salah satu bukti cinta kepada-Nya…? Dengan dalihnya itu orang tersebut seolah lupa bahwa ia mengaku mencintai-Nya justru saat ia sedang membutuhkan-Nya. Lalu apakah ia tetap menghadap-Nya saat sedang mendapatkan kenikmatan dan kemudahan…? Ia merasa sudah menjadi seorang pecinta, padahal mungkin baru menjadi seorang pemaksa…
Sungguh, berdoa itu harus dilakukan dengan sabar dan ikhlas. Nabi Zakaria, seorang kekasih Allah yang suci dari dosa. Puluhan tahun ia berdoa agar dianugerahi anak, tetapi Allah belum kunjung mengabulkannya. Puluhan tahun adalah waktu yang sangat lama. Tetapi beliau tidak pernah berhenti berdoa, apalagi kecewa. Beliau tetap bersabar dan ikhlas. Barulah, saat beliau berusia lanjut, Allah pun memberinya keturunan, yang juga seorang nabi yang mulia, yakni Nabi Yahya, yang diangkat menjadi nabi saat masih kecil.
Nabi Musa terus berdoa dan bersabar dalam upayanya menghentikan kezaliman Fir`aun. Ada rentang waktu empat puluh tahun antara dimulainya doa Musa a.s. dengan tenggelamnya Firaun. Nabi Ayyub juga terus berdoa dan bersabar atas musibah yang menimpanya, sampai akhirnya Allah menyembuhkannya dan mengembalikan kenikmatan yang lebih besar kepadanya.
Ada riwayat yang berbunyi, “Seorang kekasih Allah berdoa kepada-Nya. Lalu Dia berkata kepada seorang malaikat-Nya. ‘Penuhi keperluan hamba-Ku itu, tapi jangan segera, karena Aku senang mendengar rintihannya.’ Ketika musuh Allah berdoa kepada-Nya, Dia berkata kepada seorang malaikat-Nya, ‘Penuhi keinginannya dengan segera, karena Aku benci mendengar suaranya.”
Jika doamu segera dikabulkan, perhatikanlah, engkau mungkin layak cemas, karena jangan-jangan itu karena Allah benci mendengar doamu, sehingga Dia harus bersegera mengabulkan permintaanmu… Sebaliknya, jika doamu belum juga dikabulkan, maka tetaplah berbahagia, karena mungkin Dia sedang senang mendengar rintihanmu di hadapannya… karena itulah Dia tangguhkan beberapa waktu untuk memenuhi keinginanmu…
Maka, teruslah berdoa dengan ikhlas. Dan bersabarlah… Karena Dia mencintai hamba-Nya yang terus berdoa. Dia Mahatahu kapan saat yang tepat untuk memenuhi doa hamba-Nya..!
Bandung, 27 September 2011
Salam
Ashoff Murtadha












