Di tengah kondisi bangsa dan masyarakat yang mundur dan tertinggal ini, kita harus membangun dan memasyarakatkan budaya keunggulan… Di tengah bangsa yang tengah terlena oleh kesantaian hidup yang menghabiskan usia, budaya keunggulan harus digerakkan… Selain perlunya gerakan-gerakan positif lainnya –semisal Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan lainnya– untuk membangun kompetensi dan daya saing bangsa, maka masyarakat dan bangsa ini perlu dan harus melakukan Gerakan Budaya Keunggulan…
Hidup unggul harus menjadi budaya bangsa… Dan agar keunggulan itu menjadi budaya masyarakat, maka mereka harus digerakkan dalam menjalani budaya keunggulan tersebut… Sebut saja namanya, Gerakan Budaya Keunggulan… Dan seperti kata seorang pakar kualitas asal Negeri Sakura, Jepang, Kaoro Ishikawa, “Kualitas berawal dan berakhir pada pendidikan,” maka gerakan yang dimaksud adalah keunggulan di bidang pendidikan…
Mengapa pendidikan…? Karena pendidikan bisa dilakukan oleh semua orang, di semua strata sosial, di semua posisi sosial, di semua kepentingan, di semua harapan…. Pendidikan adalah hak dan kewajiban setiap orang, kepentingan dan kebutuhan setiap orang, apa pun profesi dan statusnya di tengah masyarakat.
Mungkin ada yang berpendapat, bahwa pendidikan kadangkali berubah menjadi proses “pendudukan”, sebut saja misalnya seperti pada masa kolonialisme Jepang dan Belanda…Ya, itu memang terjadi… dan itu karena pendidikan HANYA milik sebagian orang, bukan menjadi milik semua orang… Kondisi demikian bisa terjadi kapan dan di mana saja… bukan hanya masa Jepang atau sebelumnya, bahkan sekarang pun…! Pendidikan telah menjadi alat bagi pendudukan –dan ini akan terus berlangsung SELAMA pendidikan kualitas unggul hanya dinikmati oleh segelintir orang…
Di antara kritik terhadap pendidikan saat ini adalah bahwa pendidikan sekarang bukan menumbuhkembangkan bakat, tapi justru malah memupuskan bakat dan potensi anak didik… Sehingga, orang seperti Margareth Mead bilang –sebagai kritik pedas terhadap institusi persekolahan, “Nenekku menyuruhku untuk cerdas, makanya ia melarangku sekolah…”
Kita (setidaknya saya) sangat tidak sepemikiran dengan Margareth Mead dan kawan-kawannya mengenai Deschooling … tetapi (sebagian) kritik mereka tentang institusi persekolahan ada benarnya… Sebagai ilustrasi, saya mencoba melihat fakta yang terjadi hingga saat ini. Mari kita hitung, berapa puluh tahun seorang anak belajar sepanjang hidupnya tentang suatu disiplin ilmu misalnya, tetapi ia tetap tidak bisa diandalkan dalam ilmu tersebut…
Sebagai contoh kecil, berapa tahun seorang sarjana tafsir hadis kuliah tentang tafsir hadis, bahkan hingga S2 dan S3, di perguruan tinggi Islam. Namun dari ribuan mahasiswa itu di seluruh negeri ini, berapa sih yang telah menjadi ahli tafsir dan hadits…? Bahkan dari jumlah besar itu, berapakah sarjana yang bisa melakukan takhrij hadits yang sebenarnya sederhana…?
Contoh lain lagi… Sejak SD, seorang anak belajar bahasa Inggris, hingga SMP, SMA, S1, bahkan S2 dan S3 (kurang lebih 20 tahunan)… Tetapi, dari jutaan anak sekolah di negeri ini yang mengalami sistem pendidikan yang sama, berapa orangkah yang bisa menerjemahkan dan menggunakan bahasa Inggrisnya dengan baik…? Bahkan ternyata ada (tidak sedikit) juga calon doktor yang masih harus belajar bahasa Inggris dari awal… Ini tentang bahasa Inggris. Lalu bagaimana dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa internasional? Lebih-lebih lagi…
Kondisi ini jelas melahirkan inefisiensi dan pemborosan dalam banyak hal… Pemborosan dalam hal biaya sudah pasti.. Pemborosan dalam hal usia juga sudah pasti. Kata orang, dengan kondisi seperti ini, maka kualitas mereka akan menjadi seperti ungkapan ini, “Laa yahya wa laa yamuutu – habis biaya tidak juga bermutu…”
Jika dihitung, berapakah setiap anak menghabiskan biaya untuk pendidikannya sejak ia masuk TK hingga S3? Bisa mencapai puluhan juta… Sebagian orang bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah… Lalu jumlah tersebut dikalikan dengan jutaan atau puluhan juta penduduk yang belajar saat ini, maka kalkulator terlengkap pun agaknya sudah tidak bisa lagi menghitung keseluruhan biaya yang telah dikeluarkan untuk biaya pendidikan mereka semuanya (saking banyaknya angka NOL …)
Pemborosan dalam produktivitas? Jangan ditanya. Justru inilah yang sekarang juga dipersoalkan. Biaya yang sebegitu luar biasa besar, dengan menghabiskan usia puluhan tahun ini, menuntut energi yang juga sangat besar… Lalu, dengan keborosan di berbagai bidang itu, lalu di mana dan seperti apa produktivitas yang telah dihasilkan…? Apakah sebanding…?
Maka, selagi tidak ada tindakan konkrit untuk menghentikan pemborosan nasional dan massal yang luar biasa di bidang pendidikan ini, diduga kuat kondisi ini akan terus berlangsung… selagi tidak ada sekelompok orang yang berusaha keluar dan mengeluarkan dari kondisi ini, maka dipastikan ini akan terus menghabiskan energi dan aset setiap orang dan bangsa, dalam jumlah yang akan terus lebih besar…. apalagi kapitalisme pendidikan sekarang bukan lagi isu, tapi sudah ada bersama kita…
Oleh sebab itulah, urgensi Gerakan Budaya Keunggulan bisa dimengerti… Sehingga masyarakat –semua usia dan kalangan– perlu dan harus melakukan berbagai macam terobosan untuk mencapai berbagai jenis keunggulan yang bisa diandalkan. Dan karena masyarakat dan bangsa kita diakui terbelakang dan terbelakang, maka menggerakkan budaya keunggulan di tengah masyarakat adalah mendesak…!
Salam ekselen…!
Bandung, 21 September 2011
Ashoff Murtadha













Miris ustadz kalau mendengar berita tentang tawuran antar pelajar, antar kampung, apalagi dilakukan oleh mahasiswa. Pendidikan yang sedang dijalani seperti tidak bersinergi dan memberikan spirit kebaikan. Belum lagi dekadensi moral dari mulai anak kecil umur 3 tahun yang asyik merokok sampai oknum pejabat yang tergiur untuk mendapatkan uang panas atau melampiaskan syahwat bukan pada tempatnya. Seperti kehilangan keteladanan yang baik.