Mahasuci Allah, Zat yang telah membekali manusia naluri belajar. Segala puji bagi-Nya yang telah mewajibkan belajar sejak lahir hingga terkubur. Mahabesar Dia yang telah mengutamakan ilmu untuk kemaslahatan makhluk. Dan tiada Tuhan selain Dia yang kelak akan menuntut manusia mempertanggungjawabkan ilmu dan akalnya.
Manusia dilahirkan sebagai makhluk belajar. Saat balita, semua aktivitas yang dilakukannyaa adalah belajar. Ia selalu memiliki curiosity (rasa ingin tahu) yang amat besar dan meledak-ledak. Ia akan menangis jika curiosity-nya dihambat atau dihalangi. Karenanya, selain berbagai kewajiban individual, belajar juga adalah naluri fitrah yang membedakan manusia dari hewan dan tumbuhan. Belajar pulalah yang kelak mempengaruhi kualitas dan kebahagiaan hidup seseorang.
Belajar itu alat. Tujaunnya, mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Agar bahagia, ia memerlukan berbagai kejeniusan, meliputi fisikal, akal, jiwa dan hati. Agar tumbuh jenius dan memiliki berbagai kejeniusan, ia membutuhkan –apa yang saya sebut dengan– atmosfir belajar. Kenapa? Sebab, belajar bukan sebuah proses independen yang berdiri sendiri. Ia merupakan sebuah proses yang melibatkan berbagai faktor yang saling mengait, bergantung, membutuhkan dan mendukung. Itulah sebabnya seorang manusia memerlukan atmosfir belajar yang kuat.
Apa itu atmosfir belajar? Atmosfir belajar ialah lapisan-lapisan yang melindungi seseorang dari berbagai kemungkinan yang menyebabkan kegiatan belajar rusak, hancur, lunglai, tidak bergairah, dan tidak berdaya desak tinggi untuk menuai prestasi. Sebagaimana atmosfir bumi yang mengeli












