Tasbih dan tasbeh…! Dua kata yang sangat mirip, dan berasal dari kata yang sama, dan keduanya sama-sama berasal dari bahasa arab. Perbedaannya hanya pada huruf “i” dan “e” pada huruf kelima –huruf “e” menunjukkan bahwa kata itu sudah mengalami pergeseran dari bahasa aslinya, bahasa Arab… Namun, dari segi makna bagi orang-orang Indonesia, keduanya juga memang berbeda. “Tasbih” adalah ucapan “subhanallah”, ini sama dengan arti asal dalam bahasa Arabnya, dan makna ini juga sama di kalangan bangsa-bangsa lain yang mengenal dan menggunakan istilah ini…
Sedangkan “Tasbeh” merujuk pada suatu alat yang digunakan orang-orang (Muslim) untuk berzikir, termasuk di antaranya untuk bertasbih… Tasbeh adalah butiran-butiran yang diikat oleh benang… Jumlah butiran itu bervariasi untuk setiap untaian… Ada yang berjumlah 33 butir, ada juga 100 butir… Untuk tasbeh yang memiliki butiran 100, maka pada kedua belah sisi butiran ke 33 dibatasi dengan butiran yang menonjol, untuk memudahkan hitungan jumlah zikir…
Mengapa pembatasan itu pada butiran ke 33? Itu karena, setiap usai salat fardu, setiap Muslim lazimnya mendawamkan bacaan zikir berupa Tasbih al-Zahra, dengan urutan dan bilangan sebagai berikut: Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali… Atau ada juga kalangan yang membaca urutannya dibalik, yakni Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhanallah 33 kali….
Bagi saya pribadi, setiap menatap Tasbeh, sering teringat Sayyidah Fathimah al-Zahra… Karena di sinilah awal Tasbeh bermula… Ceritanya begini…
Suatu saat, Fathimah al-Zahra menghadap Ayahandanya, Nabi Saw. Sang Puteri ini mengadukan kepada beliau tentang beban yang ia tanggung dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga… Untuk itu, menghadap Ayahandanya, Sang Puteri meminta seorang pembantu untuk ikut membantu mengerjakan urusan rumah tangganya bersama sang suami tercinta, Ali bin Abi Thalib…. Tetapi, apa kata Sang Nabi..?
Beliau bersabda, kurang lebih, “Puteriku, maukah engkau aku ajarkan suatu amalan yang jika engkau dawamkan setiap usai salat fardu, maka engkau takkan membutuhkan seorang pembantu pun selamanya…” Apa jawab Sang Puteri? “Tentu saja, mau… Maka, kemudian Rasul Saw. mengajari Puterinya, yakni membaca Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhanallah 33 kali.”
Maka, sejak saat itu, Fathimah al-Zahra selalu mengamalkan tasbih itu… Dan karena tasbih tersebut diajarkan Nabi kepada puterinya, Al-Zahra, maka Tasbih ini dikenal dengan sebutan Tasbh al-Zahra… (namun mayoritas kita membacanya dibalik urutannya, yakni tasbih dulu, lalu tahmid, dan takbir belakangan)…
Kemudian muncul dugaan, bahwa orang yang pertama kali menggunakan butiran-butiran untuk mengitung jumlah bacaan (yang kemudian disebut dengan TASBEH itu) adalah Sang Bidadari Insani (Haura Insiya), al-Batul, Ummu Abiha, Sang Puteri Kemilau (al-Zahra), Sayyidah Fathimah, satu-satunya puteri Nabi yang tercinta itu…
Berkaitan dengan zikir, sesungguhnya perintah berzikir itu adalah sebanyak-banyaknya (dzikran katsiran…)… Manakah yang lebih baik, berzikir dengan menggunakan tasbeh, ataukah tanpa tasbeh, yakni cukup dengan menggunakan jari-jemari saja…? Bagi saya pribadi, hal ini tidak perlu dipertentangkan.. Hanya saja, jika dengan menggunakan tasbeh kita bisa termotivasi berzikir sebanyak-banyaknya, maka itu lebih baik daripada tidak pakai tasbeh, tapi zikirnya ngirit, apalagi sampai tidak sempat –karena lalai…
Secara psikologis, alat berupa tasbeh yang kita pegang itu, mengingatkan alat raba pada tangan kita, dan rabaan pada tasbeh yang tangan kita lakukan itu connect dengan otak dan kesadaran kita… Pada akhirnya, otak dan hati kita bisa lebih ingat dengan aktivitas zikir yang tengah kita lakukan…
Setidaknya saya pernah mencoba, berzikir tanpa tasbeh dengan berzikir tanpa tasbeh itu berbeda… Ketika saya mencoba tanpa tasbeh, hitungan zikir saya sering tidak karuan, dan akhirnya tidak lagi meneruskan bacaan zikir… Tanpa tasbeh, target bacaan zikir menjadi tidak jelas, bahkan akhirnya tanpa target… Tapi, ketika menggunakan alat tasbeh, maka selain target jumlah zikir bisa terkontrol, juga pikiran bisa terpandu untuk ingat target jumlah zikir yang sedang kita bacakan…
Ada pertanyaan, “Bukankah Nabi Saw tidak menggunakan tasbeh saat berzikir…?” Tentu, jangan samakan kita dengan beliau ..?!! Beliau itu, tidur pun tidak tidur… Tidur hanya matanya, sementara hati beliau tidak (tanaamu aynaaya wa laa yanaamu qalbii)… Sedangkan kita, tidak tidur pun sering tertidur dari mengingat Allah, apalagi saat tertidur…
Kalau begitu, alat tasbeh bisa menjadi alat untuk membuat kita mudah berzikir, bisa menghitung target dengan relatif lebih tepat, memacu target, dan teringatkan untuk selalu berzikir… Setiap melihat dan memegang tasbeh, hati kita bisa lebih tergerak untuk berzikir, ketimbang ketika tidak memegangnya…
Tasbeh tidak ada contohnya dari Nabi…? Kalau pun ya, puteri beliau telah mencontohkannya –setidaknya yang saya ketahui… Dan puteri beilau sangat tahu tentang risalah yang diturunkan kepada Ayahandanya. Sebab wahyu risalah mendarat di rumah di mana puteri semata wayang itu lahir, tumbuh, besar, dan berjuang sebagai mujahidah muslimah…
Lagi pula, tasbeh itu alat semata, sebuah alat yang bisa kita gunakan untuk berzikir… Sama saja dengan pesawat terbang, yang juga merupakan alat semata, misalnya untuk beribadah haji… Jika dengan pesawat terbang kita bisa berhaji dari Asia Tenggara, itu tentu harus kita lakukan ketimbang kita berjalan kaki dari negeri nusantara ini, walaupun Sang Nabi tidak pernah mencontohkan naik kendaraan besi… Saat berhaji, kalau tidak salah, bahkan Nabi Saw hanya berjalan kaki dari Madinah, berombongan dengan ratusan ribu orang bersamanya … kata orang Sunda mah: Ngaleut ngeungkeuy ngabandaleut… ngembat-ngembat nyatang pinang…. Lalu apakah kita akan mengatakaan bahwa kita lebih baik berhaji berjalan kaki, karena Sang Nabi mencontohkan perjalanan menuju ibadah haji itu demikian…?
Jadi.. . kalau begitu, Tasbeh itu bukan warisan tradisi Kristiani yang dinamakan dengan Rosario, seperti yang tidak jarang dijadikan alasan oleh mereka yang anti Tasbeh… Malah, bisa jadi, justru rasario itu yang menjiplak Tasbeh…
Bandung, 8 Juli 2011
Ashoff Murtadha












